Kamis, 09 Maret 2017

Polusi Merkuri Sebabkan Kerugian Hingga 24 Miliar Per Tahun



Akumulasi merkuri pada manusia dapat diteruskan pada keturunannya dan mengakibatkan penurunan kecerdasan (IQ). Studi tentang valuasi dari kerugian akibat penurunan IQ yang dipublikasikan di Journal of Environmental Management pada akhir 2016 mengungkap, potensi kerugian Indonesia mencapai Rp 12 - 24 miliar.

"Kerugian itu menjadi tanda bahwa Indonesia harus segera meratifikasi Konvensi Minamata," kata Krisna Zaki dari Bali Fokus dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Valuasi kerugian akibat pencemaran merkuri dilakukan di 14 negara. Penelitian lapangan di Indonesia dilakukan oleh IPEN danBali Fokus di Sekotong, Lombok Barat dan Poboya, Sulawesi Tengah. Warga di dua wilayah tersebut melakukan penambangan emas dengan merkuri. Penambangan dilakukan di belakang tempat tinggal.

Studi dilakukan dengan mengambil sampel rambut warga dan menganalisis kandungan merkurinya. Batas maksimum merkuri adalah 0,58 ppm.

Hasil studi mengungkap, kandungan merkuri pada warga di kedua wilayah melampaui ambnang batas, mencapai 0,82 ppm dan 13,3 ppm. Dengan nilai itu, maka bisa disimpulkan warga setempat berpotensi mengalami penyakit saraf dan menurunkan merkuri pada keturunan hingga menurunkan nilai IQ.

Untuk setiap penurunan satu tingkat IQ, valuasi rupiahnya adalah sebesar 19.269 dollar AS. Dari situ, nilai kerugian Indonesia diperkirakan.

Menanggapi studi itu, Kepala Sub-Direktorat Penerapan Konvensi B3 Purwasto Saroprayogo mengatakan bahwa Indonesia telah menandatangi Konvensi Minamata. Namun, masih perlu waktu untuk benar-benar meratifikasinya. Hingga saat ini, sudah 128 negara yang menandatangani.

"Sekarang kita sudah akan lakukan kajian akademis untuk ratifikasi. Itu perlu karena kita nanti harus menjelaskan pada kementerian lain mengapa kita perlu meratifikasinya, apa manfaatnya untuk kita," katanya.

Krisna mengatakan, Indonesia harus segera meratifikasi untuk mencegah kerugian lebih besar. Saat ini, sumber pencemaran merkuri 57 persen berasal dari pertambangan emas skala kecil. Ia mengungkapkan, harus ada upaya baru untuk mendorong penambangan emas tanpa merkuri. (sumber: kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar